Karhutla di Barito Selatan Berlangsung 3 Bulan, Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat

Barito Selatan, // Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Barito Selatan menggelar konferensi pers terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang telah berlangsung hampir tiga bulan lamanya. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Kantor BPBD Kabupaten Barito Selatan, dipimpin langsung oleh Kepala Pelaksana BPBD, Agus In’Yulius, ST., MT., dan didampingi oleh Kepala Dinas Kesehatan, dr. Dadang Baskoro Nugroho, Sp.PD. Acara ini juga dihadiri oleh para wartawan dari berbagai media yang beroperasi di wilayah Barito Selatan. Pada Hari Jum’at, 16/10/2026

Dalam keterangannya kepada awak media, Agus In’Yulius menyampaikan bahwa kondisi kebakaran dan kabut asap yang melanda wilayah ini sudah memasuki tahap kritis. “Kami ingin menyampaikan kepada seluruh masyarakat dan pihak terkait bahwa kondisi kita saat ini sudah sangat memprihatinkan. Karhutla ini sudah berjalan hampir 3 bulan, dan status siaga darurat  dan tanggap darurat sudah kami tetapkan hingga tiga kali berganti periode. Selama ini kami sudah bergerak bersama-sama dengan unsur TNI, Polri, dan seluruh elemen masyarakat untuk melakukan pemadaman di lapangan, namun tantangan yang dihadapi masih sangat besar,” ujar Agus .

Ia juga menjelaskan mengenai data peningkatan titik panas atau hotspot yang terjadi dalam dua bulan terakhir, yang menunjukkan lonjakan sangat signifikan. “Berdasarkan data yang kami catat, pada bulan Agustus jumlah titik panas tercatat sebanyak 2.398 titik. Angka ini meningkat tajam pada bulan September menjadi 4.965 titik. Peningkatan ini sangat mengkhawatirkan dan sejalan dengan bertambahnya dampak yang dirasakan masyarakat, baik dari segi kesehatan maupun kerusakan lingkungan dan ekosistem hutan yang kita miliki,” tambahnya.

Agus menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak bisa diselesaikan hanya oleh tim penanggulangan bencana saja, melainkan butuh peran serta seluruh warga. “Kebakaran ini tidak muncul secara tiba-tiba tanpa penyebab. Sebagian besar titik api bermula dari aktivitas pembakaran lahan yang dilakukan manusia. Oleh karena itu, kami menghimbau sekuat tenaga agar masyarakat berhenti membakar lahan atau hutan. Tindakan sederhana ini sangat berarti untuk mengurangi luas kebakaran dan dampak kabut asap yang makin meluas,” tegasnya.

Menyusul hal tersebut, dr. Dadang Baskoro Nugroho memberikan penjelasan mendalam mengenai dampak kesehatan yang ditimbulkan, termasuk laporan adanya korban jiwa. “Kami mencatat adanya kasus kematian yang diduga kuat berkaitan langsung dengan dampak kabut asap. Salah satunya adalah bayi berusia 6 bulan dan seorang tenaga medis atau petugas P3K di lingkungan Sekretariat Daerah yang meninggal dunia akibat gangguan pernapasan yang parah. Hal ini menjadi peringatan keras bagi kita semua betapa berbahayanya polusi udara saat ini,” ungkap Dadang.

Lebih lanjut Dadang menjelaskan sistem penanganan kesehatan yang disiapkan pemerintah daerah. “Di wilayah Barito Selatan terdapat 12 unit Puskesmas dan 1 rumah sakit rujukan. Puskesmas berfokus pada upaya pencegahan, penyuluhan, dan promosi kesehatan, sedangkan rumah sakit bertugas memberikan pengobatan atau penanganan kuratif bagi warga yang sudah sakit. Kami berharap masyarakat lebih waspada, gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, dan segera berobat jika mengalami gangguan pernapasan agar risiko yang lebih parah dapat dihindari,” pungkas Dadang.

Penulis; Husin